Kamis, 08 April 2010

Lamteng Diguncang Gempa 5,1 SR

GUNUNGSUGIH – Setelah Aceh, giliran Lampung diguncang gempa berkekuatan 5,1 Skala Richter (SR) kemarin (8/4) pukul 15.58 WIB. Episentrum gempa berada di 37 km barat daya Gunungsugih, Lampung Tengah (Lamteng), dengan kedalaman 180 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMG) menginformasikan, gempa juga dirasakan di 37 km barat daya Metro; 43 km barat laut Tanjungkarang, Bandarlampung; 88 km tenggara Belambanganumpu, Waykanan; dan 233 km barat laut Jakarta. Meski demikian, banyak warga yang tidak merasakan adanya gempa. Dan hingga sore kemarin, belum adanya laporan kerusakan. Sebelumnya, gempa 4,5 SR dirasakan di Nabire, Papua, Kamis dini hari. Pusat gempa berada di darat 23 km Tenggara Nabire. Lalu, disusul gempa 4,7 SR di Gunungsitoli, Nias. Pusat gempa berada di 79 km barat laut Gunungsitoli.
Letak geografis Indonesia berada di kawasan rawan bencana, terutama gempa. Selama Januari 2010 saja tercatat sekitar 100 kali gempa. Karena itu, Indonesia sangat membutuhkan sistem mitigasi bencana terpadu. Menyusul rentanya sejumlah wilayah akan gempa, ahli gempa dan seismologis ITB Bandung Wahyu Triyoso, Ph.D. mengungkapkan, Indonesia membutuhkan sistem mitigasi bencana yang terintegrasi. Ia membebarkan fakta, sejak Januari 2010 telah terjadi lebih dari 100 kali gempa berkekuatan di atas 5 SR di Indonesia.
Sejak 2004, tercatat lebih dari 800 kali gempa berkekuatan di atas 5 SR. ’’Keberadaan sistem mitigasi bencana akan membuat pemerintah dan masyarakat memiliki adaptasi dan antisipasi yang lebih baik terhadap perilaku alam khususnya gempa,’’ kata dosen jurusan Teknik Geofisika ITB itu. Dia berpendapat ada beberapa hal mendasar dalam mitigasi bencana. Salah satunya pelestarian pengetahuan lokal (local knowledge) dari masyarakat yang dikombinasikan dengan aplikasi pengetahuan terbaru (updating knowledge) dalam hal bagaimana mengantisipasi potensi bencana. ’’Masyarakat Pulau Simuelue di Aceh misalnya, punya kebiasaan berlari ke perbukitan apabila terjadinya gempa dibarengi surutnya air laut, untuk menghindarkan diri dari terjangan tsunami. Kearifan lokal semacam itu perlu ditunjang dengan pengetahuan yang bersumber dari riset modern mengenai gempa dan tsunami agar masyarakat dapat mengantisipasinya lebih baik lagi,’’ ujar Wahyu. (niz) (Sumber : Radar Lampung, 09-04-2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar